Banda Aceh
Figur

Siapa Sayuti Abubakar?

HALAMAN kantor DPD Partai Demokrat Aceh di Banda Aceh siang itu mendadak ramai. Terlihat ada banyak kader dan para ketua-ketua DPC Demokrat Se-Aceh duduk…

Oleh Waktu baca: 3 menit
Bagikan

HALAMAN kantor DPD Partai Demokrat Aceh di Banda Aceh siang itu mendadak ramai. Terlihat ada banyak kader dan para ketua-ketua DPC Demokrat Se-Aceh duduk di teras, berbincang ria. Lalu seorang pria berperawakan tegap turun dari mobil, menggenggam map biru berisi berkas pendaftaran. Itulah Dr. Sayuti Abubakar, S.H., M.H., Wali Kota Lhokseumawe yang baru saja mendaftar sebagai calon Ketua DPD Partai Demokrat Aceh. Langkahnya tenang, namun penuh arti.

Pria kelahiran Desa Linggong, Kabupaten Bireuen, 15 September 1981 itu adalah putra kesembilan dari sebelas bersaudara. Ayahnya, H. Abubakar, dan ibunda Hj. Saudah membesarkan anak-anak mereka dalam suasana religius yang kental.

Sayuti kecil menempuh pendidikan dasar di Madrasah Ibtidaiyah Negeri Tanoh Anoe, lalu melanjutkan ke Pesantren Ulumuddin Lhokseumawe. Lingkungan inilah yang menanamkan karakter disiplin dan cinta pada tanah kelahiran.

Merantau, Berorganisasi, dan Membangun Karier Hukum

Selepas pesantren, Sayuti merantau ke Jakarta dan menamatkan SMA di Bekasi. Rantau terus berlanjut. Ia meraih gelar sarjana hukum sekaligus magister hukum dari Universitas Pancasila Jakarta.

Tahun lalu, puncak akademiknya tercapai dengan menyandang gelar doktor hukum dari Universitas Trisakti Jakarta. Meski bertahun-tahun hidup di ibu kota, kecintaannya pada Aceh tak pernah luntur.

Ia aktif mengurus Taman Iskandar Muda dan Ikatan Mahasiswa Pascasarjana Aceh Jakarta, dua paguyuban yang menjadi jembatan rasa rindu bagi para perantau.

Dunia hukum profesional dimasukinya pada 2006. Awalnya ia menjadi pengacara junior di Kantor Hukum Gunawan Nanung & Rekan Jakarta, namun hanya setahun. Jiwa mandirinya mendorong ia mendirikan Sayuti Abubakar & Partner Law Firm pada 2007.

Sejak saat itu, kiprahnya melesat. Sayuti menjadi advokat langganan dalam sengketa pemilihan kepala daerah di Mahkamah Konstitusi. Puluhan kepala daerah di Aceh dan berbagai wilayah Indonesia pernah ia bela. Ia juga menangani perkara korporasi, perdata, pidana, hingga litigasi. Kemampuan hukumnya yang tajam dan pendekatan yang tenang membuatnya disegani di ruang sidang.

Dari Partai Lokal Menuju Panggung Wali Kota

Kiprahnya di organisasi politik dimulai saat Partai Nasional Aceh didirikan. Ia didapuk sebagai Sekretaris Majelis Tinggi PNA, posisi strategis yang menghubungkan elite partai dengan akar rumput.

Namun titik balik sesungguhnya terjadi pada pemilihan kepala daerah 2024. Sayuti maju sebagai calon Wali Kota Lhokseumawe dan berhasil memenangkan kontestasi. Bersama wakilnya, ia memimpin kota itu selama lima tahun ke depan.

Saat ditanya mengenai program prioritasnya, jawaban Sayuti sederhana namun mengena. “Saya ingin kebersihan kota tertata dengan baik,” katanya. Bukan jawaban muluk-muluk.

Baginya, kebersihan adalah cermin dari keteraturan dan penghormatan pada ruang publik. Fokus keduanya adalah tata kelola pemerintahan yang rapi, sebuah keahlian yang ia timba dari pengalaman panjang di dunia hukum. Ia ingin Lhokseumawe menjadi kota yang bukan hanya bersih secara fisik, tapi juga bersih dalam pengelolaan.

Pelantikannya saat itu tinggal hitungan hari, Gubernur Aceh Muzakkir Manaf datang melantiknya atas nama Menteri Dalam Negeri Muhammad Tito Karnavian dalam sidang paripurna DPRD Kota Lhokseumawe.

Amanah besar itu ia sambut dengan rendah hati, sebagaimana ia menerima setiap klien hukum dulu yaitu dengan persiapan matang dan niat tulus.

Sayuti Abu Bakar menyerahkan berkas pendaftaran bacalon Ketua DPD Partai Demokrat Aceh di kantor DPD Partai Demokrat Aceh, Selasa (11/8/2026). Sumber foto: /Elza
Sayuti Abu Bakar menyerahkan berkas pendaftaran bacalon Ketua DPD Partai Demokrat Aceh di kantor DPD Partai Demokrat Aceh, Selasa (11/8/2026).
Sumber foto: /Elza

Kini, langkah Sayuti mendaftar sebagai calon Ketua DPD Demokrat Aceh menjadi penanda bahwa ia ingin merawat hubungan emosional antara partai dan rakyat. Bekal pengalaman di pemerintahan, kancah hukum, dan jaringan organisasi membuatnya percaya diri merangkul lebih banyak pihak.

Bagi Sayuti Abubakar, kepemimpinan bukan soal posisi. Ia adalah tentang keberanian menata, melayani, dan merawat harapan masyarakat dari hal yang paling sederhana dan kepemimpinan yang jujur.**

Tinggalkan Komentar

Kolom bertanda * wajib diisi.