acehtoday.id/ | Banda Aceh – Jalan Tol Sigli–Banda Aceh (Sibanceh) memang memangkas waktu perjalanan, namun di balik lancarnya kendaraan melaju tanpa hambatan, kawasan Saree, Kecamatan Lembah Seulawah, Aceh Besar, justru kehilangan denyut ekonominya.
Sepanjang Jalan Nasional Banda Aceh–Medan yang dahulu dipenuhi kendaraan singgah, kini hanya sesekali terlihat mobil melintas.
Deretan rumah makan, kios oleh-oleh, hingga pedagang kaki lima yang selama puluhan tahun menggantungkan hidup dari pengguna jalan, kini menghadapi kenyataan pahit, pembeli nyaris tak lagi datang.
Di depan Masjid Jamik Baitul Muttaqin, Dewi masih setia menjaga lapak sederhana yang digunakan untuk menjual tape, bengkuang, jagung rebus, ubi, dan hasil kebun lainnya, namun siang itu, lebih dari dua puluh menit berlalu tanpa satu pun kendaraan berhenti.
“Ekonomi kami susah, mobil tidak kemari lagi,” kata Dewi kepada Seputar Aceh, Kamis (16/7/2026).
Perempuan yang sejak kecil membantu orang tuanya berjualan di Saree itu mengatakan kondisi berubah drastis sejak Tol Sibanceh beroperasi.
“Dulu semua singgah di Saree, dari Sigli ke Banda Aceh ataupun sebaliknya pasti berhenti makan atau beli oleh-oleh, sekarang tidak ada lagi,” ujarnya.
Menurut Dewi, pendapatannya turun hingga sekitar 70 persen, bahkan memperoleh omset Rp50 ribu dalam sehari kini menjadi sesuatu yang sulit.
“Kadang sampai sore tidak laku seribu rupiah,” katanya.
Bukan hanya pedagang kecil yang merasakan dampaknya, Rumah Makan Harkat Sejahtera, salah satu rumah makan yang dahulu ramai dikunjungi pengguna jalan lintas, akhirnya menutup operasional di Saree dan memindahkan usaha ke kawasan Lamtamot.

Karyawan rumah makan itu, yang akrab disapa Kak Bit, mengatakan keputusan tersebut diambil karena jumlah pelanggan terus menurun.
“Kendaraan sekarang lewat tol semua, paling satu dua mobil saja yang masih lewat sini,” ujarnya.
Menurutnya, bertahan di Saree sudah tidak lagi memungkinkan, dapur rumah makan bahkan telah dipindahkan ke lokasi baru yang dinilai masih memiliki arus kendaraan.
“Saree sudah mati total, makanya kami pindah,” katanya.
Kondisi itu terlihat jelas dari bangunan rumah makan yang kini kosong, terpal penutup menggantung di bangunan, sementara papan bertuliskan “24 Jam Buka” mulai berdebu dan rak-rak toko tampak kosong.
“Kedai setan sekarang,” ucap Kak Bit sambil tersenyum getir.
Ia mengatakan pedagang kecil menjadi kelompok yang paling terpukul karena tidak memiliki modal untuk membuka usaha di lokasi baru.
“Rumah makan besar mungkin masih bisa pindah, tapi pedagang kecil bagaimana? Mereka tidak punya uang untuk pindah,” ujarnya.
Para pedagang berharap pemerintah tidak sekadar memberi bantuan sesaat, melainkan membantu mereka membangun sumber ekonomi baru.
“Kasih modal usaha, biar kami bisa berkebun, buat kolam ikan, tanam bengkuang, ubi, atau tanaman lain,” harap Dewi.
Tol Sibanceh Bukan Penyebab Tunggal

Sumber foto: acehtoday.id/Elza
Pakar ekonomi Aceh, Prof. Apridar, menilai lesunya ekonomi Saree sebenarnya bukan karena keberadaan jalan tol semata, melainkan akibat perpindahan arus lalu lintas yang merupakan konsekuensi umum pembangunan infrastruktur.
Menurutnya, jalan tol memang mengalihkan kendaraan sehingga aktivitas ekonomi ikut berpindah ke kawasan pintu keluar tol.
“Yang terjadi bukan ekonomi mati, tetapi pusat ekonominya bergeser,” ujarnya.
Ia menjelaskan, selain perpindahan arus kendaraan, kondisi Jalan Nasional yang gelap dan rusak membuat pengguna jalan semakin memilih tol karena lebih cepat dan aman.
Meski demikian, Apridar menilai pemerintah tidak boleh membiarkan Saree kehilangan fungsi ekonominya.
Ia menyarankan pemerintah segera melakukan revitalisasi kawasan melalui pembangunan sentra UMKM, perbaikan akses jalan, penerangan, pemasangan petunjuk menuju Saree dari pintu keluar tol, hingga menciptakan produk khas yang mampu menarik orang keluar dari jalan tol.
“Saree harus berubah dari tempat singgah menjadi tujuan wisata kuliner dan produk lokal,” katanya.
Tanpa langkah tersebut, menurut Apridar, kawasan yang dahulu menjadi salah satu pusat ekonomi di jalur Banda Aceh–Medan itu berisiko semakin ditinggalkan.
Gagasan Bagus, Namun Tidak Mudah
Bustami, pemilik Rumah Makan dan Coffe Cikgu Kopi di kawasan Lembah Seulawah, menilai usulan menjadikan Saree sebagai destinasi wisata atau pusat ekonomi baru tidak semudah yang dibayangkan. Menurutnya, pelaku usaha di kawasan tersebut menghadapi berbagai keterbatasan, mulai dari persoalan modal hingga regulasi yang berlaku di Aceh.
Ia menanggapi pandangan ekonom Prof. Apridar yang menyarankan agar Saree melakukan reposisi ekonomi melalui pengembangan wisata dan produk unggulan.
“Secara konsep memang bagus, tetapi di lapangan tidak semudah itu, pengembangan wisata di Aceh harus menyesuaikan dengan aturan dan qanun yang berlaku, banyak hal yang harus dipertimbangkan agar tidak berbenturan dengan regulasi maupun nilai-nilai syariat,” kata Bustami kepada Seputar Aceh.
Menurutnya, gagasan membangun destinasi wisata atau kawasan ekonomi baru lebih mudah diwujudkan oleh investor atau pelaku usaha yang memiliki modal besar. Sementara mayoritas masyarakat Saree merupakan pedagang kecil dan petani yang menggantungkan hidup dari hasil kebun serta penjualan di pinggir jalan.

“Kalau yang punya modal besar mungkin bisa membangun tempat wisata atau usaha baru, tapi bagaimana dengan masyarakat kecil yang hanya mengandalkan hasil kebun untuk dijual kepada pengguna jalan? Mereka tidak punya kemampuan finansial untuk melakukan inovasi sebesar itu,” ujarnya.
Bustami mengatakan, selama puluhan tahun roda ekonomi Saree bertumpu pada kendaraan yang melintas di jalan nasional, Ketika arus lalu lintas beralih ke Jalan Tol Sigli–Banda Aceh, masyarakat kecil menjadi kelompok yang paling merasakan dampaknya karena kehilangan pasar tanpa memiliki alternatif sumber penghasilan.
Karena itu, ia berharap pemerintah tidak hanya mendorong masyarakat untuk berinovasi, tetapi juga menghadirkan program nyata berupa pendampingan, akses permodalan, serta kebijakan yang mampu menghidupkan kembali aktivitas ekonomi di kawasan Saree.
“Kami tentu ingin Saree bangkit, tetapi masyarakat tidak bisa dibiarkan berjuang sendiri. Harus ada keberpihakan dan solusi yang benar-benar bisa dijalankan,” katanya.
Pemkab Aceh Besar Masih Cari Jalan Keluar
Di tengah lesunya ekonomi Saree, Pemerintah Kabupaten Aceh Besar mengaku masih mencari solusi untuk membantu pedagang yang kehilangan pembeli sejak beroperasinya Jalan Tol Sigli–Banda Aceh.
Salah satu opsi yang tengah dibahas ialah membuka peluang bagi pelaku usaha lokal untuk berjualan di kawasan rest area jalan tol.
Namun hingga kini, rencana tersebut belum dapat dipastikan karena masih menunggu pembahasan bersama PT Hutama Karya (Persero) selaku pengelola jalan tol.

Kepala Dinas Koperasi, UMKM, dan Perdagangan Aceh Besar, Drs. H. Sulaimi, M.Si., mengatakan pemerintah daerah belum memiliki kewenangan menentukan lokasi maupun kuota pedagang yang dapat menempati rest area.
“Kami masih menunggu waktu yang tepat untuk membahas hal itu secara khusus dengan PT Hutama Karya, Sampai sekarang belum ada keputusan mengenai jumlah titik rest area maupun alokasi ruang yang disiapkan untuk UMKM lokal,” kata Sulaimi kepada Seputar Aceh, Jumat (17/7/2026).
Menurutnya, pemerintah daerah hanya berperan melakukan pembinaan terhadap pelaku UMKM, Sementara seluruh kebijakan terkait pemanfaatan kawasan rest area berada di bawah kewenangan pengelola jalan tol.
Akibat belum adanya kepastian tersebut, Pemkab Aceh Besar belum dapat memastikan apakah pedagang di kawasan Saree nantinya memperoleh prioritas untuk menempati lokasi usaha di rest area.
Meski demikian, Sulaimi memastikan pemerintah daerah telah menjadikan persoalan tersebut sebagai perhatian, dalam waktu dekat pihaknya berencana menggelar pertemuan dengan PT Hutama Karya guna membahas peluang keterlibatan UMKM lokal dalam pengembangan rest area.
“Kami ingin ada solusi yang bisa mengakomodasi kepentingan masyarakat, khususnya pedagang yang terdampak, tetapi semuanya harus dibahas bersama karena menyangkut kewenangan pengelola jalan tol dan kapasitas lahan yang tersedia,” ujarnya.
Ia mengakui ruang usaha di kawasan rest area memiliki keterbatasan sehingga mekanisme penempatan pedagang harus disusun secara cermat agar adil dan sesuai aturan.
Karena itu, Pemkab Aceh Besar berharap koordinasi dengan pengelola jalan tol dapat menghasilkan skema yang memberi ruang bagi UMKM lokal untuk tetap berkembang, tanpa bertentangan dengan regulasi pengelolaan jalan tol.
Tim Seputar Aceh Temukan Fakta
Hasil penelusuran Seputar Aceh di salah satu kawasan rest area Jalan Tol Sigli–Banda Aceh menunjukkan kondisi yang jauh dari gambaran pusat aktivitas ekonomi, saat tim berada di lokasi, tidak terlihat satu pun pedagang maupun pelaku UMKM yang berjualan.
Rest area tersebut tampak lengang, area parkir hanya sesekali disinggahi beberapa kendaraan yang berhenti sejenak untuk beristirahat sebelum kembali melanjutkan perjalanan.
Tidak terlihat kios, lapak oleh-oleh, maupun aktivitas jual beli sebagaimana yang diharapkan dapat menjadi ruang baru bagi pelaku usaha lokal.
Temuan lapangan ini sejalan dengan pernyataan Pemerintah Kabupaten Aceh Besar yang menyebut pemanfaatan rest area bagi UMKM lokal hingga kini masih sebatas rencana dan belum memasuki tahap implementasi.
Belum adanya kepastian mengenai alokasi ruang maupun mekanisme penempatan pedagang membuat kawasan tersebut belum memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat yang terdampak beroperasinya jalan tol.
Dengan kondisi tersebut, harapan sebagian pedagang Saree untuk memperoleh kesempatan berjualan di rest area masih harus menunggu hasil pembahasan antara Pemerintah Kabupaten Aceh Besar dan PT Hutama Karya selaku pengelola Jalan Tol Sigli–Banda Aceh.

Sumber foto: acehtoday.id/Elza
PT Hutama Karya (Persero) menegaskan komitmennya mendorong pertumbuhan ekonomi lokal melalui pengelolaan rest area di sepanjang Tol Sigli-Banda Aceh (Sibanceh), menyusul sorotan publik terhadap melemahnya ekonomi kawasan Saree pascaoperasional jalan tol tersebut.
Kepala Regional Sumatra Bagian Utara PT Hutama Karya, Taufiq Hidayat, menjelaskan bahwa pihaknya memprioritaskan lebih dari 30 persen tenant komersial di rest area bagi pelaku UMKM lokal, sehingga produk-produk unggulan Aceh dapat menjangkau lebih banyak pengguna jalan tol.
"Hutama Karya memprioritaskan lebih dari 30% tenant komersial di rest area bagi pelaku UMKM lokal, sehingga produk-produk unggulan Aceh dapat menjangkau lebih banyak pengguna jalan tol," katanya saat dikonfirmasi acehtoday.id/, Sabtu (18/7/2026).
Terkait ketersediaan ruang, Taufiq menyebut hingga saat ini masih ada peluang bagi pelaku UMKM lokal untuk bergabung sebagai tenant, sesuai ketersediaan ruang dan kebutuhan operasional. Masyarakat yang berminat, katanya, dapat menghubungi pengelola rest area untuk memperoleh informasi lebih lanjut mengenai mekanisme dan persyaratan yang berlaku.
Hutama Karya Koordinasi dengan Pemda Kembangkan Kawasan Saree
Dari sisi koordinasi, Taufiq menyebut pihaknya terus bersinergi dengan Pemerintah Aceh dan Pemerintah Kabupaten Aceh Besar untuk mendukung pengembangan kawasan di sekitar jalan tol Sigli-Banda Aceh.
Ia menilai kehadiran jalan tol diharapkan dapat menjadi katalis pertumbuhan ekonomi baru, sementara potensi wisata, kuliner, dan UMKM di kawasan Saree terus didorong melalui kolaborasi berbagai pihak.
Menanggapi keluhan pelaku usaha di Saree yang omzetnya menurun, Taufiq mengatakan pihaknya memahami bahwa setiap pembangunan infrastruktur dapat membawa perubahan pola mobilitas masyarakat. Namun ia meyakini kawasan Saree tetap memiliki potensi besar sebagai destinasi wisata, kuliner, maupun pusat aktivitas ekonomi masyarakat.
“Dengan meningkatnya aksesibilitas wilayah melalui jalan tol, kami berharap potensi tersebut dapat terus dikembangkan melalui inovasi produk, peningkatan kualitas layanan, promosi yang lebih luas, serta kolaborasi seluruh pemangku kepentingan sehingga kawasan Saree tetap menjadi tujuan masyarakat,” ujarnya.
Terkait sepinya Jalan Nasional Banda Aceh-Medan, Taufiq menyebut peralihan sebagian lalu lintas ke jalan tol merupakan hal yang lazim setelah suatu ruas tol beroperasi.
Menurutnya, jalan tol melayani perjalanan jarak jauh secara lebih cepat dan efisien, sementara jalan nasional tetap memiliki peran penting sebagai akses mobilitas lokal, distribusi barang, serta penghubung menuju kawasan ekonomi dan destinasi wisata.

Hutama Karya Buka Ruang Evaluasi dan Jalankan Program TJSL
Taufiq memastikan pihaknya terbuka terhadap masukan masyarakat dan akan terus melakukan evaluasi bersama pemerintah serta pemangku kepentingan lainnya, agar manfaat pembangunan jalan tol dapat dirasakan secara optimal oleh seluruh lapisan masyarakat.
Sebagai BUMN, Hutama Karya juga disebut secara konsisten menjalankan Program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) yang berfokus pada pemberdayaan masyarakat dan pengembangan UMKM.
Selain memprioritaskan tenant rest area bagi UMKM lokal, Taufiq menyebut perusahaan juga aktif menyalurkan bantuan bagi masyarakat terdampak bencana, melaksanakan kegiatan sosial seperti pembagian takjil saat Ramadan, operasi simpatik lewat pembagian kopi, permen, dan edukasi keselamatan bagi pengguna jalan, serta penyaluran hewan kurban pada momen Iduladha.
“Melalui berbagai program tersebut, Hutama Karya berupaya memastikan kehadiran jalan tol tidak hanya meningkatkan konektivitas, tetapi juga memberikan manfaat sosial dan ekonomi bagi masyarakat di sekitar wilayah operasional,” pungkasnya. (MI, EP, ZM, AN)









