Banda Aceh
Pariwara

Kuliner dan Ekonomi Digital Jadi Primadona Baru Wirausaha Muda Aceh

Banda Aceh – Tekanan pandemi yang sempat melumpuhkan banyak sendi kehidupan justru melahirkan gelombang baru wirausaha di Banda Aceh.…

Oleh Waktu baca: 3 menit
Bagikan

Banda Aceh – Tekanan pandemi yang sempat melumpuhkan banyak sendi kehidupan justru melahirkan gelombang baru wirausaha di Banda Aceh. Kehilangan pekerjaan tak membuat masyarakat menyerah. Mereka beradaptasi, membangun usaha sendiri, dan menjadikan krisis sebagai batu loncatan. “Pada masa pandemi terjadi perubahan besar.

Banyak masyarakat yang kehilangan pekerjaan kemudian membangun usaha sendiri sehingga lahirlah banyak UMKM baru,” ujar TM Saputra, Fungsional Pengembang Kewirausahaan Ahli Madya Dinas Koperasi, UKM, dan Perdagangan (Diskopukmdag) Kota Banda Aceh, Rabu (5/8/2026).

Pernyataan itu bukan sekadar analisis, melainkan cerminan data resmi. Berdasarkan Sistem Informasi Data Tunggal (SIDT) hingga penghujung tahun 2025, jumlah pelaku UMKM di Banda Aceh tercatat mencapai sekitar 47.460 unit.

Angka ini menjadi wajah baru ibu kota Provinsi Aceh dalam merespons perubahan zaman, dari tekanan menuju panggung kreativitas dan inovasi yang menjanjikan. Pemerintah Kota Banda Aceh menangkap geliat positif ini sebagai momentum strategis yang tak boleh disia-siakan.

Melalui Diskopukmdag, pemerintah menjelma menjadi fasilitator aktif yang merangkul pelaku UMKM untuk naik kelas. Perhatian besar diarahkan pada penguatan daya tahan, daya saing, dan pemanfaatan teknologi digital.

Hal ini diwujudkan dalam berbagai pelatihan yang tidak sekadar mengajarkan cara membuat produk, tetapi juga bagaimana menciptakan nilai tambah, membangun merek yang kuat, serta memberikan pengalaman tak terlupakan bagi pelanggan.

“Konsumen sekarang semakin cerdas dan kritis. Mereka tidak lagi mengejar harga murah, melainkan berburu kualitas dan keunikan sebuah produk. Kalau produk punya karakter yang berbeda, konsumen akan kembali lagi meskipun harganya lebih mahal,” kata TM Saputra menekankan.

Di sektor kuliner yang masih menjadi primadona, Diskopukmdag terus mengingatkan agar pelaku usaha tak sekadar ikut-ikutan membuka lapak. Menjual produk yang sama tanpa pembeda hanya akan membuat bisnis sulit berkembang. “Jangan hanya menjual produk yang sama. Kalau orang jual alpukat, kita juga jual alpukat, tetapi harus ada pembeda.

Wirausaha harus mampu menciptakan inovasi baru,” pesannya. Pemerintah kota hadir dengan pelatihan yang relevan, membantu pelaku UMKM menemukan ciri khas yang membuat pelanggan setia.

Komitmen ini diterjemahkan pula dalam strategi terukur berbasis pemetaan potensi tiap kecamatan. Kecamatan Syiah Kuala yang identik dengan dunia kampus didorong sebagai pusat kuliner dan jasa pendukung mahasiswa.

Sementara kawasan pesisir seperti Meuraxa diproyeksikan menjadi lumbung usaha perikanan, wisata bahari, dan kerajinan berbasis kearifan lokal. Pendekatan yang memadukan aspek sosiografi, demografi, dan geografis ini memastikan setiap pelaku UMKM mendapat dukungan yang sesuai dengan lingkungannya.

Era digital juga membuka pintu lebar bagi lahirnya wirausahawan generasi baru. Tanpa perlu modal besar, banyak anak muda Banda Aceh kini memanfaatkan gawai sebagai mesin cuan, mulai dari kreator konten, fotografi, videografi, animator, hingga reseller produk digital.

“Sekarang memulai usaha tidak perlu modal besar. Yang paling penting adalah kemauan berusaha dan mampu memanfaatkan teknologi digital,” ujar TM Saputra. Pemerintah kota memfasilitasi pergerakan ini dengan membuka akses konsultasi dan pendampingan seluas-luasnya.

Layanan yang disediakan Diskopukmdag sangat lengkap. Pelaku UMKM bisa datang langsung untuk berdiskusi, mengurus perizinan usaha melalui sistem Online Single Submission (OSS), mendapatkan strategi pemasaran digital, hingga memperoleh fasilitasi akses pembiayaan ke lembaga keuangan.

“Kami menyediakan layanan konsultasi. Pelaku UMKM Banda Aceh bisa datang untuk berdiskusi, termasuk jika membutuhkan fasilitasi pembiayaan,” tegas Saputra. Pemerintah benar-benar hadir sebagai teman berdiskusi yang siap membimbing dari hulu ke hilir.

Lewat kolaborasi yang solid antara pemerintah dan pelaku usaha, Banda Aceh tak hanya memulihkan ekonominya, tetapi juga menciptakan ekosistem bisnis yang inklusif, kreatif, dan berdaya tahan tinggi. UMKM bukan sekadar bertahan, melainkan melesat menjadi penggerak utama ekonomi daerah. Semangat ini pula yang terus digaungkan TM Saputra di setiap kesempatan.

“Yang paling penting adalah membangun jiwa kewirausahaan, berani memulai usaha, terus berinovasi dan memanfaatkan digitalisasi. Peluang usaha di Banda Aceh masih sangat terbuka bagi siapa saja yang mau berusaha,” pungkasnya. (adv)

Tinggalkan Komentar

Kolom bertanda * wajib diisi.