MRT Jakarta berupaya menghidupkan kawasan di sekitar stasiun dengan konsep placemaking. Konsep ini bertujuan menjadikan ruang publik lebih menarik dan mendukung perputaran ekonomi. Dalam acara MRTJ Fellowship Program 2026, Samuel Ryan Pradipta Pranowo, Division Head Business Planning and Expansion Division MRT Jakarta, menjelaskan pentingnya menciptakan ruang ketiga.
Ruang ketiga adalah tempat yang dapat dieksplorasi masyarakat setelah rumah dan tempat kerja. Samuel mengatakan, kota seharusnya menyediakan ruang nyaman yang dapat menarik perhatian emosional warga. Ruang tersebut harus memiliki ciri khas dan identitas unik.
Contoh sukses dari konsep ini adalah kawasan TOD Blok M. Kawasan ini berhasil menjadi pusat anak muda perkotaan setelah sempat sepi. Samuel menekankan pentingnya inklusivitas, agar kawasan dapat dinikmati oleh semua kalangan, tidak hanya segmen menengah ke atas.
Samuel juga mengacu pada contoh dari Jepang, di mana setiap kawasan di Tokyo memiliki identitasnya sendiri. Misalnya, Akihabara terkenal dengan anime, sedangkan Shinjuku dikenal sebagai pusat perbelanjaan modern. Menurutnya, pelaku placemaking harus menciptakan kawasan dengan tema dan daya tarik unik.
Berdasarkan studi Stanford University, kegiatan ekonomi kreatif (MICE) yang dilakukan di kawasan placemaking dapat menciptakan efek berganda. Efek ini dapat menghasilkan dampak ekonomi hingga lima kali lipat dari nilai transaksi utama. Jika sebuah kegiatan menghasilkan transaksi Rp 10 miliar, maka dampaknya terhadap ekonomi bisa jauh lebih besar.[]
Sumber: Kumparan.com
