… Banda Aceh
Uncategorized

Mengontrak atau Beli Rumah? Rahasia Investasi Rp410 Juta di Usia 35

Oleh
Bagikan

ACEHTODAY.ID – Rahasia investasi seorang karyawan ternyata sederhana: menyisihkan uang rutin sejak usia 25 tahun lewat autodebit reksa dana indeks saham. Satu dekade kemudian, nilainya mencapai Rp410 juta dan membuatnya bisa membeli rumah Rp550 juta tanpa terdesak.

Awalnya tidak ada yang istimewa. Di usia 25 tahun, gajinya Rp6,5 juta per bulan. Ia menyewa kontrakan di Bekasi seharga Rp1,3 juta, dan sisa uangnya setelah semua pengeluaran hanya sekitar Rp400.000.

Perubahan datang dari Pak Haji Darso, pemilik kontrakan berusia 70-an yang dulu operator pabrik dan kini memiliki delapan petak kontrakan. “Ngontrak itu bukan nasib buruk, Nak. Yang buruk itu kalau uangnya hilang dan kamu tidak tahu ke mana,” ujarnya.

Dua minggu kemudian, tokoh ini membuka reksa dana indeks saham dengan autodebit Rp600.000 sehari setelah gajian. Enam bulan berselang, saldonya Rp3,7 juta. Saat gaji naik, setoran ikut naik menjadi Rp1 juta, lalu Rp1,5 juta di usia 27 tahun dengan saldo Rp21 juta.

Dua Jalan Berbeda: Cicilan atau Investasi

Rekan kerjanya, Rizki, memilih jalur lain. Ia mengambil cicilan mobil Rp3,1 juta per bulan selama lima tahun, lalu membeli rumah Rp420 juta di usia 28 tahun dengan uang muka Rp42 juta dan cicilan Rp3,4 juta pada masa bunga tetap.

Saldo investasi tokoh kita menembus Rp100 juta setahun setelah mencapai Rp69 juta. Pada usia itu ia menikahi Sinta dengan resepsi Rp18 juta dari tabungan terpisah, tanpa utang.

Saat Pasar Turun dan Cicilan Naik

Ujian datang ketika pasar saham turun 18 persen dan investasinya menyusut dari Rp152 juta menjadi Rp125 juta. Ia tidak menjual, malah menaikkan autodebit menjadi Rp3,5 juta per bulan.

Pada periode sama, cicilan rumah Rizki naik setelah bunga tetap berakhir. Ia pun meminjam Rp7,5 juta dan melunasinya delapan bulan kemudian.

Ketika Sinta hamil, mereka menetapkan syarat: rumah dekat stasiun, uang muka minimal separuh harga, dan cicilan tidak lebih dari seperlima penghasilan gabungan. Aturan itu terasa penting saat perusahaan memberhentikan 20 karyawan, termasuk Dimas yang punya KPR.

Di usia 35 tahun, dengan penghasilan gabungan sekitar Rp25 juta per bulan, mereka membeli rumah Rp550 juta. Uang muka Rp275 juta lunas, KPR sepuluh tahun dengan cicilan sekitar Rp3,5 juta, dan investasi masih tersisa Rp135 juta. Rizki masih menanggung sisa utang sekitar Rp330 juta.

Kuncinya, menurut kisah ini, bukan menolak rumah, melainkan menghindari pembelian karena terpaksa.

Kisah ini fiktif, angkanya hanya ilustrasi, dan bukan saran keuangan. Keputusan mengontrak atau membeli rumah perlu disesuaikan dengan penghasilan, risiko, dan kondisi keluarga.

Tinggalkan Komentar

Kolom bertanda * wajib diisi.