Banda Aceh – Malam 31 Desember 2000 menjadi penanda pahit dalam hidup Rasyidah. Suaminya yang berprofesi sebagai anggota polisi tewas tertembak saat bertugas di pelabuhan Kuala Langsa. Peristiwa itu mengubah jalan hidupnya dan meninggalkan luka yang hingga kini tak sepenuhnya pulih.
Kepada , Kamis (13/8/2026), Rasyidah menceritakan kembali malam kelam tersebut. Suaminya turun dari rumah untuk bertugas pada malam hari. Tak lama kemudian, terdengar letusan senjata. Semua orang panik dan berusaha menyelamatkan diri, termasuk suaminya.
“Suami saya waktu itu turun dari rumah, dia sedang bertugas. Malam hari. Kemudian terjadi letusan-letusan. Semua orang menyelamatkan diri, termasuk suami saya,” kata Rasyidah.
Keesokan harinya, Rasyidah mendapat kabar bahwa kendaraan yang dibawa suaminya ditemukan dalam keadaan kosong. Ia mencari hingga akhirnya menemukan jasad suaminya di semak-semak dengan membawa anaknya yang masih kecil.
Jasad itu kemudian dibawa ke rumah sakit untuk pemeriksaan sebelum dipulangkan kepada keluarga. Hingga kini, Rasyidah tidak pernah mengetahui siapa pelaku penembakan maupun dari mana arah tembakan berasal.
Bertahan Hidup di Tengah Himpitan Ekonomi dan Trauma
Kematian suami membuat Rasyidah harus membesarkan dua anak seorang diri. Ia bersyukur masih memiliki penghasilan sebagai guru untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Namun, kondisi keamanan saat itu membuat kehidupan sehari-hari sangat sulit. Sekolah tidak berjalan normal dan mencari penghasilan menjadi persoalan tersendiri.
“Kalau seandainya saya bukan guru, mungkin anak saya sudah kelaparan. Waktu itu untuk cari rezeki sulit. Kita tanam singkong, apa yang ada. Pisang-pisang muda kita rebus untuk makan anak,” ujarnya.
Selain persoalan ekonomi, trauma akibat peristiwa itu masih membekas pada dirinya dan kedua anaknya. Meski keduanya kini telah dewasa dan berumah tangga, kondisi psikologis mereka masih rentan akibat pengalaman kekerasan yang dialami sejak kecil. “Saya masih ingat suara letupan-letupan tersebut, keras sekali,” kenang Rasyidah.
Setelah kejadian tersebut, Rasyidah memilih tidak menikah lagi. Kesedihan atas kehilangan suami dan pengalaman panjang setelah peristiwa itu masih menjadi beban. Ia mengaku tidak memiliki ruang untuk mencurahkan kepahitannya.
“Sudah sampai sekarang saya tidak menikah juga. Saya masih sangat mengalami kesedihan itu. Sangat terpukul, sangat teriris. Tapi mau mengadu dengan siapa? Tidak ada tempat untuk kita mencurahkan, tempat untuk menceritakan. Mau tidak mau kepahitan itu kita telan sendiri,” tuturnya.
Pemulihan yang Belum Dirasakan
Rasyidah mengaku selama bertahun-tahun tidak pernah mendapatkan pemulihan ekonomi maupun dukungan psikologis yang secara khusus dirasakan sebagai korban. Ia beberapa kali mengikuti sosialisasi dan memberikan kesaksian kepada Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi (KKR) Aceh, tetapi kesaksian itu belum diikuti pemulihan yang nyata.
Ia juga mendengar adanya bantuan bagi korban, namun bantuan itu dinilai belum menjangkau seluruh korban secara merata. Rasyidah berharap jika pemerintah menyediakan bantuan, distribusinya tidak hanya diterima oleh sebagian kecil.
“Kalaupun ada bantuan, diberikan merata. Walaupun sedikit-sedikit seorang. Jangan kalau banyak hanya segelintir orang. Yang jatah seribu jadinya seratus, yang sembilan ratus lagi tidak mendapat bantuan,” lanjutnya.
Bagi Rasyidah, pemulihan bukan hanya soal bantuan dalam jumlah besar. Setelah puluhan tahun bertahan dengan kondisi sulit, perhatian dan dukungan yang merata menjadi bentuk pengakuan bahwa korban masih ada dan membutuhkan negara.
Pemerintah perlu melihat kondisi korban secara langsung, terutama mereka yang harus menjalani kehidupan setelah kehilangan anggota keluarga, mengalami trauma, dan menghadapi kesulitan ekonomi.
“Orang hidup di dunia ini butuh makan, butuh kebutuhan. Kalau pemerintah sedikit pun tidak melihat kondisi orang-orang korban seperti apa, kita bilang itu sangat tidak adil,” pungkas Rasyidah.
Lebih dari 25 tahun setelah suaminya tewas, Rasyidah masih membawa ingatan tentang malam di Kuala Langsa. Waktu telah membuat anak-anaknya dewasa, tetapi tidak serta-merta menghapus trauma yang ditinggalkan oleh kekerasan. Rasyidah luka konflik Aceh adalah potret nyata bahwa perdamaian harus memiliki arti bagi mereka yang pernah kehilangan, bukan hanya memastikan konflik tidak kembali terjadi, tetapi juga memastikan korban tidak berjalan sendirian menghadapi sisa luka masa lalu.
