Kecelakaan pesawat Yemenia Airways terjadi pada 29 Juni 2009. Pesawat Airbus A310-324 (registrasi 7O-ADJ) berangkat dari Sanaa, Yaman menuju Moroni, Kepulauan Komoro. Pada penerbangan IY626, pesawat mengangkut 153 orang, termasuk 142 penumpang dan 11 anggota awak.
Ketika mendekati Landasan 20 Bandara Internasional Moroni Prince Saïd Ibrahim, cuaca buruk melanda. Hembusan angin mencapai 30 knot, membuat pesawat mengalami manuver tidak stabil. Awak pesawat tidak merespons alarm peringatan jarak tanah dan pesawat mengalami stall sebelum jatuh ke laut.
Dari 153 orang di pesawat, hanya satu yang selamat, yaitu Bahia Bakari, seorang gadis berusia 12 tahun. Bahia dan ibunya terbang dari Paris untuk menghadiri pernikahan kakeknya di Komoro. Mereka berpindah pesawat di Sana’a.
Bahia mengingat pengalaman pahitnya saat di pengadilan. Ia menjelaskan bahwa pesawat kedua yang mereka naiki berukuran lebih kecil, berbau tidak sedap, dan terdapat lalat di dalamnya. Meskipun demikian, penerbangan awalnya berjalan normal.
Namun, saat pesawat A310 mendarat, ia merasakan turbulensi. Bahia menggambarkan sensasi seperti sengatan listrik menjalar di tubuhnya saat pesawat jatuh ke Samudra Hindia dengan mesin tetap beroperasi.
Bahia berhasil bertahan dengan memegang puing-puing pesawat. Ia terombang-ambing di laut selama beberapa waktu sebelum akhirnya ditemukan. Kecelakaan ini mengakibatkan 152 orang tewas, menjadikan kisah Bahia sangat mengharukan.
Selama sidang dugaan kelalaian maskapai di Paris pada 23 Mei 2022, Bahia menceritakan tragedi tersebut. Ia adalah simbol harapan dan ketahanan di balik tragedi yang memilukan. Kisahnya menarik perhatian banyak orang dan menjadi peringatan akan pentingnya keselamatan penerbangan.
Bahia Bakari kini menjadi saksi hidup dari kecelakaan tersebut. Ia terus berbagi pengalamannya untuk meningkatkan kesadaran akan keselamatan penerbangan. Pengalaman pahitnya menyoroti betapa rentannya keselamatan dalam industri penerbangan.[]
Sumber: detikNews
