Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia memastikan kuota produksi batu bara cukup untuk kebutuhan kelistrikan nasional. Ia menjelaskan hal ini dalam Rapat Kerja (Raker) dengan Komisi XII DPR RI di Jakarta pada Rabu.
Bahlil menyatakan, tidak ada masalah terkait persetujuan rencana kerja dan anggaran biaya (RKAB) batu bara yang diperlukan oleh PLN. Ia menyebutkan, kuota produksi batu bara harus menjaga keseimbangan antara pasokan dan permintaan.
“RKAB batu bara nggak ada masalah lagi menyangkut dengan PLN. Supaya jangan lagi lampu mati alasannya RKAB,” ujar Bahlil. Ia menambahkan, membuat RKAB yang tinggi bisa menjatuhkan harga batu bara.
Bahlil menegaskan, pemerintah memastikan kecukupan pasokan batu bara untuk PLN melalui Direktorat Jenderal Mineral dan Batu Bara (Ditjen Minerba) Kementerian ESDM. Pemadaman listrik yang terjadi di Kalimantan dan Sulawesi bukan disebabkan oleh kekurangan batu bara.
Menurut Bahlil, pemadaman listrik di dua daerah tersebut terjadi akibat dampak El Nino. “Lampu mati di Kalimantan sama di Sulawesi itu enggak ada urusannya sama RKAB,” katanya.
Bahlil menjelaskan, pembangkit listrik tenaga air (PLTA) mengalami penurunan kontribusi karena air yang rendah. “Kontribusi dari 400 megawatt (MW) tinggal 200–250 MW, jadi terjadi kekurangan di sana,” tambahnya.
Untuk mengatasi masalah ini, Bahlil sedang menyiapkan pembangkit pengganti untuk PLTA di Sulawesi Selatan yang terdampak El Nino. Ia juga berencana rapat dengan PT PLN (Persero) untuk membahas kelistrikan di Kalimantan Tengah.
“Daerah-daerah lain juga sebentar kami akan rapatkan sama PLN untuk kami mitigasi sejak awal,” kata Bahlil. Ia berkomitmen untuk menyelesaikan masalah kelistrikan di berbagai daerah yang terdampak.[]
Sumber: ANTARA News Jambi
