Vladimir Putin menyatakan Rusia siap menggunakan semua senjata yang tersedia jika Kaliningrad diserang. Dalam pernyataannya, ia menegaskan bahwa Moskow “tidak mengancam siapa pun”. Penyataan ini muncul setelah klaim dari pemimpin Barat bahwa Rusia bersiap untuk perang pada 2029 atau 2030.
Rusia juga menuduh NATO merencanakan pemblokiran wilayahnya yang berbatasan dengan Lithuania dan Polandia. Putin bahkan memperingatkan kemungkinan penggunaan senjata nuklir jika Kaliningrad terputus dari Rusia.
NATO telah mencoba meredakan ketegangan, menyatakan bahwa mereka adalah aliansi defensif dan meminta Moskow untuk menghentikan “ancaman nuklir”. Dalam beberapa bulan terakhir, ada peningkatan insiden perang hibrida yang dianggap berkaitan dengan Rusia, terutama di Polandia dan Baltik.
Polandia melaporkan insiden helikopter Rusia yang memasuki wilayahnya minggu lalu. Lithuania juga merasa “selalu terancam” oleh Rusia, terutama karena adanya drone yang melintas di wilayah udara mereka.
Kanselir Jerman, Friedrich Merz, mengatakan bahwa negara tersebut sedang mempersiapkan kemungkinan serangan hibrida lebih lanjut. Pernyataan ini muncul setelah drone bersenjata ditemukan di bandara Leipzig pada bulan Agustus.
Dalam pidatonya di forum kebijakan luar negeri Valdai, Putin menyatakan bahwa konflik internasional kemungkinan akan terus berlanjut namun akan membaik seiring melemahnya “hegemoni Barat”. Ia mengklaim bahwa Baratlah yang memicu invasi, dan Rusia terpaksa membela diri.
Putin menegaskan bahwa serangan Rusia terhadap target ekonomi Ukraina adalah respons terhadap serangan Ukraina terhadap infrastruktur Rusia. Ia mengakui bahwa Kyiv mendapatkan beberapa hasil dari serangan tersebut dan menyatakan bahwa Rusia telah kehilangan sekitar 1% dari PDB-nya akibat konflik ini.[]
Sumber: BBC News
