Banda Aceh – Vario 160 dan Scoopy paling banyak diburu oleh para pecinta sepeda motor merek Honda di Banda Aceh. Momentum masa panen, penerimaan mahasiswa baru, dan Hari Raya Idul Fitri yang menjadi periode puncak penjualan.
NSO Head Honda, Fitriady, mengatakan pertumbuhan penjualan terjadi secara konsisten dalam dua tahun terakhir. Menurutnya, peningkatan tersebut dipengaruhi oleh sejumlah faktor eksternal yang berdampak langsung terhadap daya beli masyarakat.
“Dua tahun terakhir lagi growth,” kata Fitriady kepada , Jumat 7 Agustus 2026.
Ia menjelaskan, meski ekonomi di Banda Aceh tidak terlalu baik, tetapi minat terhadap sepeda motor Honda tetap tumbuh.
Dari sisi produk, Honda masih mengandalkan segmen skutik sebagai penyumbang penjualan terbesar. Pada kelas mesin 160 cc, Honda Vario 160 menjadi model dengan peminat tertinggi. Sementara di segmen 110 cc, Honda Scoopy menjadi motor yang paling diminati konsumen.
“Untuk top seller, khususnya itu terdiri dari berbagai segmen ya. 160 cc itu paling tinggi peminatnya adalah Honda Vario. Di 110 cc itu peminat tertinggi masih dipegang oleh Honda Scoopy,” kata Fitriady.
Menurut Fitriady, konsumen tetap menjadikan motor 110 cc sebagai pilihan utama karena lebih ekonomis dan terjangkau dibandingkan motor dengan kapasitas mesin yang lebih besar.
“Jadi kalau bisa kita bilang memang masih dipegang oleh 110 cc. Yang pertama mungkin dari tingkat ekonomis dan juga lebih terjangkau. Untuk penjualan itu peminat tertinggi Scoopy, tapi untuk yang paling banyak laku itu Honda BeAT,” jelasnya.
Ia menambahkan, setiap model di kelas 160 cc memiliki segmen pasar yang berbeda sesuai kebutuhan konsumen. Faktor harga, desain, hingga dimensi kendaraan menjadi pertimbangan utama dalam menentukan pilihan.
Dari sisi demografi, pembeli motor Honda di Banda Aceh masih didominasi kelompok usia produktif, yakni 20 hingga 35 tahun, dengan latar belakang pekerja dan mahasiswa. Namun secara umum, pekerja menjadi kelompok pembeli terbesar.
“Untuk profiling customernya sendiri itu kita di Banda Aceh ini kan terbagi dari sembilan dealer. Jadi mahasiswa ataupun pekerja. Kalau misalnya secara umum di seluruh Kota Banda Aceh itu mungkin didominasi oleh pekerja. Kalau saya lihat mungkin pembeli sepeda motor Honda itu kisaran umurnya tertinggi di antara 20 sampai dengan 35 tahun,” katanya.
Sementara itu, konsumen dari kalangan Generasi Z juga mulai menunjukkan minat terhadap model yang mengedepankan desain dan gaya.
“Kalau misalnya untuk segmen pelajar ataupun segmen umur Gen Z itu memiliki minat untuk sepeda motor Honda tertentu ya, seperti Stylo ataupun Honda Scoopy,” ujar Fitriady.
Dalam pola transaksi, pembelian sepeda motor secara tunai dan kredit masih berlangsung seimbang. Meski tidak memiliki data keseluruhan Aceh, Fitriady menyebut secara historis komposisinya masih berada di kisaran 50:50.
Menurutnya, skema kredit banyak dimanfaatkan oleh pekerja maupun pedagang agar dana yang dimiliki tetap dapat digunakan sebagai modal usaha.
Untuk mendongkrak penjualan, Honda melalui jaringan dealer Nusantara Sakti mengoptimalkan promosi melalui kanal digital tanpa meninggalkan aktivitas pemasaran langsung.
“Kalau misalnya khususnya di Nusantara Sakti, kita itu mengejar promosi baik secara offline maupun online. Namun kalau saya lihat paling efektif untuk saat ini memang promosi itu dilaksanakan secara online. Baik itu dari media sosial Instagram, Facebook ataupun TikTok. Kalau memang banyak aktivitas yang dilakukan secara offline, baik itu secara pameran ataupun canvassing, itu juga mampu meningkatkan penjualan,” katanya.
Fitriady juga menilai masyarakat perkotaan kini semakin memilih motor matik karena lebih praktis digunakan di tengah kepadatan lalu lintas.
Laporan: Fatihatul
