Subuh di Jakarta pada 26 September 2026 menjadi perbincangan hangat karena dua kejadian penting. Pertama, azan subuh yang berkumandang dua kali. Kedua, kematian Guruh Soekarnoputra, putra bungsu Presiden pertama Indonesia.
Pukul 04.15 WIB, saat azan pertama menggema, Guruh Soekarnoputra meninggal dunia di rumah sakit MRCCC Siloam Semanggi. Keluarganya menyampaikan bahwa dia memerlukan pengawasan intensif di rumah sakit.
Di sisi lain, ribuan petani dari Indramayu berkumpul di kantor Kementerian Pertanian setelah melaksanakan salat subuh. Mereka menuntut bantuan air untuk lahan pertanian mereka yang terdampak kekeringan.
Tradisi azan subuh dua kali sudah dikenal luas. Hal ini bermula dari masa Rasulullah SAW di Madinah. Saat itu, dua sahabat, Bilal bin Rabah dan Abdullah bin Ummi Maktum, bertugas sebagai muazin.
Hadits sahih menyebutkan bahwa Bilal mengumandangkan azan pada malam hari, diikuti oleh Abdullah saat fajar shadiq telah terbit. Menurut Imam An-Nawawi, dua kali azan ini disunnahkan.
Azan pertama mengingatkan umat akan kedekatan waktu shalat, sementara azan kedua menandai masuknya waktu subuh secara resmi. Di Jakarta, praktik ini tetap berlangsung hingga kini.
Suara azan pertama terdengar di tengah kota, diikuti oleh suara kedua beberapa menit kemudian. Kebiasaan ini membantu umat menyesuaikan waktu untuk melaksanakan sholat fardhu subuh.
Guruh Soekarnoputra, lahir pada 13 Januari 1953, dikenal sebagai budayawan, politisi, dan anggota DPR RI. Kematian Guruh di tengah subuh Jakarta menyisakan duka bagi banyak pihak.
Detail penyakit yang diderita Guruh tidak dipublikasikan oleh keluarganya. Namun, kepergiannya menjadi berita yang menyentuh banyak orang, terutama di saat ibadah subuh yang khusyuk.[]
Sumber: Universitas Teknokrat Indonesia
