Korban banjir bandang di Kota Padang belum mendapatkan bantuan untuk perbaikan lahan pertanian hingga Oktober 2026. Bencana yang terjadi pada November 2025 mengakibatkan kehilangan lahan bagi banyak penyintas. Lahan pertanian merupakan sumber penghidupan utama bagi mereka yang kini tinggal di hunian sementara.
Nurmaini, 66 tahun, adalah salah satu penyintas yang kehilangan lahan pertaniannya. Lahan itu sebelumnya menghasilkan sepuluh karung beras setiap bulan, cukup untuk kebutuhan sehari-hari keluarganya. Namun, saat ini ia tidak bisa menggarap sawahnya lagi.
“Kalau untuk beras makan dulu sudah amanlah dari sawah tersebut, tapi sekarang sudah tidak bisa digarap,” kata Nurmaini saat ditemui di Hubtara Kapalo Koto, Pauh, Koto Padang, pada 6 Oktober 2026. Ia menyatakan sudah didata oleh dinas terkait dan memberikan data untuk administrasi.
Nak mendaftar, ia juga memberikan informasi kepada kelompok tani tempatnya bernaung. Namun, setelah hampir satu tahun, ia belum mendapatkan kejelasan terkait pendataan tersebut. “Padahal informasinya akan ada bantuan,” ujarnya.
Nurmaini juga mengungkapkan bahwa ia telah diminta untuk membuka rekening bank. Dia memastikan ada saldo Rp 100.000 agar rekening tidak mati saat bantuan disalurkan. Meskipun situasi ini membuatnya frustasi, ia masih berharap bantuan itu akan segera cair.[]
Sumber: Kompas.com
