Proyeksi suku bunga acuan Bank Indonesia terbelah di kalangan ekonom menjelang Rapat Dewan Gubernur pada 21 Oktober 2026. Setengah dari konsensus memperkirakan BI akan menaikkan suku bunga acuan. Situasi ini muncul di tengah pelemahan nilai tukar rupiah dan pasar saham.
Survei Bloomberg menunjukkan 19 dari 38 ekonom memperkirakan penyesuaian suku bunga. Ini terjadi setelah peringatan dari MSCI mengenai penurunan klasifikasi pasar Indonesia. Hal ini telah menyebabkan IHSG jatuh lebih dari 15% dalam waktu singkat.
Nilai tukar rupiah kembali tertekan hingga lebih dari Rp18.000 per dolar AS. Sebelumnya, BI menahan suku bunga acuan selama tiga bulan berturut-turut setelah melakukan kenaikan 100 basis poin sejak awal 2026.
Dari 19 ekonom yang memprediksi kenaikan, 17 di antaranya mengharapkan kenaikan 25 basis poin. Ada juga dua ekonom yang memperkirakan kenaikan 50 basis poin. Sementara 19 lainnya memperkirakan suku bunga tetap di 5,75%.
Ekonom UOB, Enrico Tanuwidjaja, menyatakan bahwa BI mungkin terpaksa menaikkan suku bunga akibat depresiasi rupiah yang cepat. Sementara itu, analis dari BBCA menilai pasar bertaruh pada kebijakan yang telah teruji, yaitu imbal hasil lebih tinggi untuk menarik kembali modal asing.
Ekonom BBCA, Lazuardin Thariq Hamzah dan Victor George Petrus Matindas, menekankan pertanyaan tentang sikap BI. Apakah BI akan tetap reaktif terhadap kenaikan suku bunga atau beralih menjadi lebih antisipatif dalam kebijakan terbarunya.
Keputusan BI kali ini sangat ditunggu oleh pasar. Hal ini bisa menentukan arah kebijakan yang akan diambil dalam situasi ekonomi yang semakin menantang.[]
Sumber: IDNFinancials
