Palangka Raya mengalami penurunan kualitas udara yang signifikan. Hal ini disebabkan oleh paparan asap dari kebakaran hutan dan lahan. Warga mulai merasakan dampak kesehatan serius akibat kondisi ini.
Yuyun, seorang warga berusia 26 tahun, melaporkan mengalami sesak napas, batuk, dan sakit tenggorokan. Gejala ini muncul setelah dia beraktivitas di luar rumah dalam kondisi udara yang buruk. Yuyun bahkan harus berkonsultasi ke dokter dan mengambil cuti dari pekerjaannya.
Dia menjelaskan, “Kalau aku pribadi sebenarnya suka sesak napas tiba-tiba, apalagi kalau pulang kantor. Terpapar asap belum sanggup terlalu lama.” Yuyun menambahkan bahwa rekan-rekannya juga merasakan dampak serupa.
Di tempat kerja Yuyun, banyak teman yang mengalami batuk-batuk. Beberapa bahkan harus dirawat di Unit Gawat Darurat (UGD). Yuyun mengungkapkan, “Kemarin sore saya juga nemenin teman kerja ke UGD dan hari ini dia istirahat pakai surat dokter.”
Dia juga menyebutkan, ada teman yang mengeluhkan gatal-gatal pada kulit. Meski menggunakan pendingin ruangan dan pembersih udara, Yuyun masih merasakan sesak napas saat indeks kualitas udara meningkat tajam.
Menurut Yuyun, dampak buruk kualitas udara ini dirasakan di tempat tinggal dan lingkungan kerjanya. Kondisi ini semakin mengkhawatirkan bagi banyak warga Palangka Raya.[]
Sumber: Kompas.com
