Banda Aceh
Aceh

Prahara Pulau Emas: Pameran Foto yang Merekam Ironi Bencana di Tanah Kaya Raya

Banda Aceh – Ironi tentang pulau yang dulu dikenal sebagai Swarnadwipa atau Pulau Emas karena limpahan kekayaan alamnya, kini justru…

Oleh Waktu baca: 3 menit
Bagikan

Banda Aceh – Ironi tentang pulau yang dulu dikenal sebagai Swarnadwipa atau Pulau Emas karena limpahan kekayaan alamnya, kini justru akrab dengan bencana, menjadi roh utama dalam Pameran Foto Prahara Pulau Emas yang digelar di Museum Tsunami Aceh, Banda Aceh.

Pameran ini tak hanya menjadi ruang pamer dokumentasi, melainkan juga refleksi tajam bahwa garis antara berkah dan bencana seringkali sangat tipis akibat ulah manusia.

Kritik terhadap eksploitasi alam yang berlebihan dan pengelolaan sumber daya yang tidak berpihak pada rakyat menjadi benang merah yang ditekankan oleh Pendiri Yayasan Riset Visual Mata Waktu, Oscar Motuloh.

“Kita kaya. Tapi Tuhan juga menggariskan takdir buat tanah air kita. Kekayaan itu harus dijaga dengan baik. Garis antara berkah dan bencana itu sangat tipis,” kata Oscar dalam diskusi pameran di Aula Lantai 3 Museum Tsunami Aceh, Senin (3/8/2026).

Ia dengan tegas menyatakan bahwa tidak semua bencana adalah murni faktor alam.

Oscar mencontohkan sejumlah peristiwa yang menurutnya jelas merupakan bencana akibat tindakan manusia demi keuntungan semata, namun sayangnya, tak pernah menjadi pelajaran berharga.

“Apakah kekayaan itu memberikan manfaat? Sama sekali tidak jika hanya dimiliki segelintir orang. Pengelolaannya tidak dilakukan sepenuh hati untuk rakyat,” ujarnya.

Menurutnya, eksploitasi yang serakah justru menjadi akar dari banyak musibah yang seharusnya bisa dicegah.

Diskusi Pameran Foto Prahara Pulau Emas di Museum Tsunami Banda Aceh, Senin (3/8/2026).
Diskusi Pameran Foto Prahara Pulau Emas di Museum Tsunami Banda Aceh, Senin (3/8/2026).

Membangun Narasi dari Kehancuran hingga Asa

Pameran yang berlangsung dari 3 hingga 8 Agustus 2026 ini merupakan hasil kurasi dari ratusan foto karya puluhan pewarta yang mendokumentasikan bencana di tiga provinsi di Sumatera.

Danu Kusworo, Kurator Pameran sekaligus Pewarta Foto Harian Kompas, menjelaskan bahwa alur pameran sengaja disusun secara naratif, bukan kronologis.

Pengunjung diajak menyusuri perjalanan emosional. Karya-karya yang dipamerkan membangun cerita mulai dari kehancuran, perjuangan bertahan hidup, solidaritas, hingga secercah harapan.

“Ini bukan sesuatu yang menyenangkan. Tapi kita punya kewajiban belajar dari pengalaman, terutama pengalaman visual. Karena itu setiap foto dipilih dengan pertimbangan tertentu agar memiliki makna ketika dibaca sebagai satu cerita utuh,” jelas Danu.

Proses pemilihan foto diakuinya sangat menantang. Dengan waktu penyusunan yang singkat, ia justru kesulitan karena hampir semua foto yang masuk memiliki kualitas yang sangat mumpuni.

“Foto-foto yang masuk hampir semuanya bagus. Kesulitannya justru memilih mana yang paling mampu mewakili cerita yang ingin dibangun,” imbuhnya.

Setiap halaman dalam buku yang melandasinya pun dirancang untuk menciptakan dialog visual, bukan sekadar memajang gambar terbaik.

Pameran Foto Prahara Pulau Emas di Museum Tsunami Banda Aceh, Senin (3/8/2026).
Pameran Foto Prahara Pulau Emas di Museum Tsunami Banda Aceh, Senin (3/8/2026).

Tradisi Panjang Fotografi Bencana untuk Amal

Oscar Motuloh mengungkapkan bahwa penerbitan buku dan pameran ini merupakan kelanjutan dari tradisi panjang fotografi jurnalistik untuk kemanusiaan yang telah dirintis sejak tsunami Aceh 2004 lewat buku amal Ocean of Tears.

“Foto-foto ini bukan sekadar arsip. Ini adalah bentuk amal dan pengingat agar masyarakat tidak melupakan peristiwa yang pernah terjadi,” katanya.

Seluruh karya dalam buku Prahara Pulau Emas yang terdiri dari sekitar 170 halaman dan memuat sekitar 130 foto ini merupakan sumbangan tanpa imbalan dari 48 fotografer sebagai wujud empati terhadap para korban.

Ia berharap pameran ini mampu mendorong publik untuk memahami realitas secara utuh, bahwa fotografi jurnalistik adalah bahasa yang ampuh.

Melalui pameran ini, Oscar mengajak masyarakat untuk tidak hanya menikmati estetika visual, tetapi juga menangkap pesan kritis tentang urgensi menjaga alam dan memperkuat mitigasi bencana agar tragedi serupa tidak lagi berulang.**

Tinggalkan Komentar

Kolom bertanda * wajib diisi.