ACEHTODAY.ID – Pihak RSUD dr. Fauziah Bireuen membenarkan kondisi Instalasi Gawat Darurat (IGD) yang mengalami kelebihan kapasitas atau overkapasitas akibat banyaknya pasien yang membutuhkan pelayanan medis.
Bidang Pelayanan Medis RSUD dr. Fauziah Bireuen, dr. Fahmi, mengatakan kapasitas IGD yang hanya memiliki 13 tempat tidur tidak mampu menampung jumlah pasien yang datang untuk mendapatkan penanganan.
Menurut Fahmi, kondisi serupa tidak hanya terjadi di RSUD dr. Fauziah Bireuen, tetapi juga dialami sejumlah rumah sakit lainnya.
Ia menjelaskan, tingginya jumlah pasien yang datang turut diwarnai keluhan demam dengan gejala yang mengarah pada dugaan infeksi Influenza A, yang belakangan menjadi perhatian.
Kondisi tersebut menambah beban pelayanan di IGD, sementara kapasitas tempat tidur yang tersedia terbatas untuk menampung pasien.
Pantauan Acehtoday.id di lokasi memperlihatkan ruang IGD dipadati pasien. Sejumlah pasien terlihat terbaring di tempat tidur dorong, sedangkan sebagian lainnya terpaksa berbaring di atas alas di lantai karena keterbatasan tempat tidur.
Situasi ini menggambarkan tantangan yang dihadapi rumah sakit dalam memberikan pelayanan di tengah meningkatnya kebutuhan penanganan medis.
Sebelumnya, keluarga pasien bernama Yusnidar juga mengungkapkan kesulitannya mendapatkan pelayanan kesehatan bagi suaminya yang menderita penyakit paru-paru dan mengalami sesak napas. Keluarga tersebut mengaku sempat membawa pasien ke RSU Telaga Bunda di Cot Gapu sebelum melanjutkan ke RSUD dr. Fauziah Bireuen.
Kondisi IGD yang penuh menjadi perhatian, terutama bagi pasien yang membutuhkan pertolongan segera. Keterbatasan kapasitas tersebut diharapkan menjadi bahan evaluasi bagi pemerintah daerah dan pihak terkait dalam memperkuat pelayanan kesehatan di Kabupaten Bireuen.
Sementara itu, dugaan peningkatan kasus yang mengarah pada Influenza A perlu ditindaklanjuti dengan pemeriksaan dan pemantauan medis untuk memastikan penyebab keluhan yang dialami pasien.
Pihak rumah sakit diharapkan terus mengoptimalkan pelayanan berdasarkan tingkat kegawatdaruratan pasien, sehingga masyarakat yang membutuhkan pertolongan medis dapat memperoleh penanganan sesuai kebutuhannya.
