Pekerjaan rumah besar masih membayangi ketenagakerjaan Indonesia. Tingkat pengangguran kaum muda mencapai 16,8 persen, dengan 20,31 persen di antaranya tidak bekerja, bersekolah, atau mengikuti pelatihan. Sementara itu, pekerja informal mencapai 85,35 juta orang, atau 57,8 persen dari total tenaga kerja.
Data ketenagakerjaan per Agustus 2025 menunjukkan pengangguran terbuka Indonesia berada di angka 4,74 persen. Namun, masalah lebih mendalam terlihat pada kelompok muda. Banyak generasi muda yang tidak terakses pekerjaan, pendidikan, atau pelatihan.
Kesenjangan juga tampak antara laki-laki dan perempuan dalam kesempatan kerja. Tingkat partisipasi angkatan kerja perempuan hanya 56,63 persen, jauh di bawah angka 84,40 persen untuk laki-laki. Upah perempuan juga masih tertinggal, hanya sekitar 76 persen dari rata-rata upah laki-laki.
Melihat kondisi ini, peluncuran Program Pekerjaan Layak Nasional atau Decent Work Country Programme (DWCP) Indonesia 2026–2030 menjadi langkah penting. Program ini diinisiasi oleh pemerintah, organisasi pengusaha, dan organisasi pekerja, serta melibatkan ILO. Fokus utama program adalah meningkatkan kualitas pekerjaan melalui dialog sosial dan perlindungan sosial yang lebih baik.
DWCP bertujuan meningkatkan kualitas kerja dan mempersiapkan pekerja dalam menghadapi tantangan seperti AI, digitalisasi, dan perubahan ekonomi. Program ini juga mendukung sektor ekonomi perawatan yang diperkirakan akan menciptakan hampir 10,4 juta pekerjaan pada tahun 2035.
Peluncuran DWCP dilaksanakan bersamaan dengan peringatan Hari Sumpah Pemuda dan dihadiri oleh sejumlah pejabat terkait. Ini menunjukkan komitmen bersama untuk memperbaiki kondisi ketenagakerjaan di Indonesia.[]
Sumber: IDN Times Jabar
